Loading...
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Tempat Wisata. Tampilkan semua postingan

Sejarah Asal Usul Awal Pulau Weh Sabang Aceh

Juni 29, 2017 Add Comment
Indonesia. Pulau seluas 121 km persegi ini menyimpan sejuta pesona keindahan, mulai dari danau air tawar, bukit, pemandangan bawah laut, dan tak lupa pantai-pantainya yang cantik. Banyak pantai di Pulau Weh yang wajib dikunjungi.

Pulau Weh berasal dari kata dalam bahasa aceh, ”weh” yang artinya pindah, menurut sejarah yang beredar Pulau Weh pada mulanya merupakan satu kesatuan dengan Pulau Sumatra, alasannya sesuatu hal jadinya Pulau Weh, me-weh-kan diri ke posisinya yang sekarang. Makanya pulau ini diberi nama Pulau Weh.

Sejarah Asal Usul Awal Pulau Weh Sabang Aceh
Menurut dongeng dari warga di Gampong Pie Ulee Lheueh, Pulau Weh sebelumnya bersambung dengan Ulee Lheue. Ulee Lheue di Banda Aceh sebetulnya yaitu Ulee Lheueh (yang terlepas). Beredar kabar juga Gunung berapi yang meletus dan menjadikan daerah ini terpisah. Seperti halnya Pulau Jawa dan Sumatera dulu, yang terpisah akhir Krakatau meletus.

Menurut orang-orang yang berasal dari luar nanggroe (LN), pulau weh terkenal dengan pulau we tanpa h. ada yang berfikiran jikalau pulau weh diberi nama pulau we alasannya bentuknya menyerupai aksara W. hah?!!kamu juga berpikir menyerupai itu?ngga salah juga sech.

Yang paling penting bagi sejarah Pulau Weh yaitu semenjak adanya pelabuhan di Kota Sabang. Sekitar tahun 1900, Sabang yaitu sebuah desa nelayan dengan pelabuhan dan iklim yang baik. Kemudian belanda membangun depot batubara di sana, pelabuhan diperdalam, mendayagunakan dataran, sehingga tempat yang mampu menampung 25.000 ton batubara telah terbangun. Kapal Uap, kapal laut yang digerakkan oleh batubara, dari banyak negara, singgah untuk mengambil batubara, air segar dan fasilitas-fasilitas yang ada lainnya, hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya bangunan-bangunan peninggalan Belanda. Sebelum Perang Dunia II, pelabuhan Sabang sangat penting dibanding Singapura. Namun, di dikala Kapal laut bertenaga diesel digunakan, maka Singapura menjadi lebih dibutuhkan, dan Sabang pun mulai dilupakan.

Pada tahun 1970, pemerintahan Republik Indonesia merencanakan untuk membuatkan Sabang di aneka macam aspek, termasuk perikanan, industri, perdagangan dan lainnya. Pelabuhan Sabang sendiri jadinya menjadi pelabuhan bebas dan menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Indonesia. Tetapi jadinya ditutup pada tahun 1986 dengan alasan menjadi daerah yang rawan untuk penyelundupan barang.

Referensi:
http://www.pergidulu.com/blog/pantai-pulau-weh/
Sejarah Asal Usul Awal Pantai Carocok Painan

Sejarah Asal Usul Awal Pantai Carocok Painan

Juni 27, 2017 Add Comment
Sejarah Asal Usul Awal Pantai Carocok Painan - Carocok merupakan daerah pemukiman penduduk. Bahkan penduduk setempat tidak jarang menyebut Pantai Carocok dengan sebutan “kandang jawi” atau dalam bahasa Indonesia-nya disebut “Kandang Sapi”. Hal ini disebabkan karena tempat Pantai Carocok dijadikan oleh penduduk sebagai tempat menambatkan sapinya.

Namun semenjak tahun 80-an tempat Pantai Carocok mulai dikunjungi oleh masyarakat, terutama masyarakat Painan dan daerah-daerah di sekitar Painan. Masyarakat merasa tertarik untuk datang ke Pantai Carocok karena pantai ini memiliki pemandangan yang indah, apalagi ketika senja datang, penduduk dapat dengan nyaman dan terang melihat matahari terbenam di ufuk barat.Kawasan dalam Pantai Caroccok Painan merupakan sentra objek wisata. Pantai yang bagus dengan latar Teluk Painan ditemukan di sini. Selain menikmati laut lepas, tempat ini di lengkapi dengan gazebo tempat bersantai, jembatan apung yang dibangun di atas laut, pentas apung yang dimanfaatkan jikalau ada program di sekitar Pantai Carocok.

Pantai Carocok Painan ialah tempat rekreasi pantai yang cukup lengkap. Pantai Carocok sangat cocok untuk kegiatan berenang, tempat bermain anak-anak, bersantai dan rekreasi keluarga.

Pantai Carocok terletak lebih kurang 1 km dari Kota Painan. Berbagai cara dapat ditempuh untuk dapat hingga ke objek wisata ini. Dapat ditempuh dengan kendaraan maupun berjalan kaki menyusuri bibir pantai. Bisa juga melalui kaki bukit yang landai.painan city

Pantai Carocok juga erat dengan dua pulau. Pulau Batu Kareta dan Pulau Cingkuak. Pulau Batu Kareta pribadi dapat ditempuh tanpa menyeberang laut, hanya tinggal meniti jembatan yang melintas laut, kira-kira 100 meter dari bibir pantai. Di Batu Kereta ditawarkan nuansa keindahan batu-batu laut dan karang laut. Selain itu Batu Kareta merupakan tempat yang nyaman untuk bersantai.

Sementara 400 meter dari objek wisata pantai, terdapat Pulau Cingkuak dengan luas 4,5 Ha. Menyimpan banyak sekali bukti peninggalan sejarah kolonial di Pesisir Selatan yang pada zaman itu merupakan sentra perekonomian dan pelabuhan Pantai Barat Sumatra. Di Pulau Cingkuak dapat ditemukan benteng Portugis dan Prasasti Madam Van Kempen. Pulau ini sangat ramai dikunjungi wisatawan terutama cukup umur yang melaksanakan kegiatan alam ibarat hiking dan camping, dan juga merupakan objek kajian Balai Arkeologi setiap tahunnya.

Sarana pariwisata yang ada di Pantai Carocok Nagari Painan, cukup kompleks ibarat hotel, wisma, restoran, kafe, rental perahu, toko cendramata, Masjid, gazebo, kemudahan MCK, serta area kemping, jembatan apung dan pentas apung. Sarana pariwisata itu secara umum disediakan oleh masyarakat Nagari Painan, khususnya masyarakat Kampung Painan Selatan dan Pemkab setempat. Ada juga orang-orang dari rantau yang menginvestasikan modalnya dan dikelola oleh saudara-saudaranya yang ada di kampung.

12Gazebo-gazebo dan jembatan apung merupakan sarana yang juga menambah daya pikat dari Pantai Carocok. Jembatan yang terbuat dari kayu yang pondasinya terbuat dari semen dilapisi dengan aspal beton. Memanjang dari tepi Pantai Carocok menjorok ke laut, ada yang hingga ke Pulau Batu Kereta. Di setiap persimpangan jembatan didirikan gazebo tempat bersantai, menikmati Pantai Carocok.

Begitu juga dengan kemudahan pendukung lain, sarana camping, disalah satu sudut di Pantai Carocok yang menjorok ke dalam atau ingin pribadi ke Pulau Cingkuak. Pentas terapung yang mampu digunakan jikalau ada kegiatan kesenian atau Festival Band. Sewa perahu boat yang mana mampu mengantarkan kita untuk keliling Pulau Batu Kareta atau Pulau Cingkuak.

Bagi anda yang belum pernah berkunjung ke Pantai Carocok Painan. Silahkan Cari waktu yang sempurna untuk sejenak melupakan segala acara yang selama ini mengengkang Anda. dengan pemanjaan Alam Pesisir, Dijamin Anda akan Fresh Kembali. selamat menikmati.

Sejarah Asal Usul Adanya Baturraden

Juni 18, 2017 Add Comment
Sejarah Asal Usul Adanya Baturraden - Baturaden merupakan daerah wisata alam yang terletak di kabupaten Banyumas, propinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Baturaden berada di sebelah utara kota Purwokerto, propinsi Jawa Tengah dan di sebelah selatan lereng Gunung Slamet. Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa dengan ketingian mencapai lebih kurang 3.482 meter di atas permukaan laut.

Sejarah atau kisah yang berafiliasi dengan nama Baturraden itu ada dua versi, yaitu versi Kadipaten Kutaliman dan versi Syekh Maulana Maghribi.
Sejarah Asal Usul Adanya Baturraden

Baturraden berasal dari dua kata yaitu ‘Batur’ yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan ‘Raden’ yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Dilihat dari susunan kata-katanya, maka nama Baturraden terdiri dari kata :
a. Batur – Radin, yang artinya tanah datar
b. Batur – Adi, yang artinya tanah yang indah

Dua macam nama tersebut bukan sesuatu nama yang bangun sendiri tanpa ada kaitannya dengan wilayah lain sepanjang lereng Gunung Slamet dari arah barat ke timur hingga Dieng plateau (dataran tinggi Dieng). Disekitar Baturraden juga terdapat beberapa nama diawali dengan kata ‘Batur’, seperti; Batur Agung, Batur Golek, Batur Semende, Batur Sengkala, Batur Macan, Batur Duwur, Batur Wadas Galengan dan Batur Begalan.

Versi Kadipaten Kutaliman
Pada Ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten ‘KUTALIMAN’ yang terletak 10 km disebelah Barat Baturraden. Adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan dan seorang ‘gamel’ (pembantu yang menjaga kuda). Salah satu anak perempuannya jatuh cinta dengan gamel. Cinta mereka dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Sesudah mendengar berita, bahwa anak perempuannya jatuh cinta dengan pembantunya, sang Adipati marah dan mengusir gamel dan anak perempuannya dari rumah. Diperjalanan dia melahirkan bayi didekat sungai, kemudian mereka menamakannya sungai ‘Kaliputra’. (Kali berarti Sungai dan Putra berarti anak laki-laki). Letaknya kira-kira tiga kilometer sebelah utara Kutaliman. Akhirnya mereka menemukan tempat yang rupawan dan memutuskan untuk tinggal di tempat yang sekarang dikenal dengan nama ‘Baturraden’. Berdasarkan versi pertama tersebut nama Baturaden seharusnya ditulis dengan dua ‘R’ karena versi tersebut berasal dari kata ‘Batur’ dan ‘Raden’ menjadi ‘BATURRADEN’.

Versi Syekh Maulana Maghribi
Konon di Negara Rum, bertahta seorang Pangeran berjulukan Syekh Maulana Maghribi berasal dari Turki yang memeluk agama Islam dan dia yakni seorang ulama. Pada waktu fajar menyingsing, setelah ia melaksanakan kewajibannya selaku orang muslim, terlihatlah oleh ia cahaya jelas misterius bersinar disebelah timur menjulang tinggi di angkasa. Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui tempat darimana cahaya jelas misterius itu datang dan makna dari cahaya jelas tersebut, maka timbullah niat dan itikad yang berpengaruh di dalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud. Seorang sahabatnya berjulukan Haji Datuk dipanggil dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan armada dengan segala perlengkapannya untuk berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut. Maka,berangkatlah si Pangeran bantu-membantu dengan sahabatnya itu 298 (dengan dua ratus sembilan puluh delapan) orang pengikutnya mengarungi samudera menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar selama 40 malam.

Kemudian sampailah mereka di ujung timur sebuah pulau yang berjulukan dengan Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh cukup umur ini terkenal dengan nama Pantai Gresik.

Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh dengan banyak sekali kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya, mereka belum mencapai apa yang menjadi harapan atau tujuannya karena cahaya jelas misterius tersebut tampak disebelah barat. Pada suatu waktu terlihat kembali cahaya jelas yang sedang dicarinya itu disebelah barat dan mereka mengambil keputusan kembali karah barat dengan menempuh jalan di laut Jawa di pantai Pemalang Jawa Tangah, dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah. Ditempat ini Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu.

Karena mereka mempunyai kepercayan pada Yang Maha Pencipta, mereka dijiwai oleh kekuatan Gaib yang tiada kunjung padam dan berketetapan hati akan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil membuatkan agama Islam. Dari Pemalang mereka menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal ancaman yang dihadapinya karena tertarik sinar cahaya misterius yang sekarang terlihat di Timur Laut. Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka mereka berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya sambil bengong mencicipi kisah perjalanannya serta kewajibannya yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebarluaskan agama Islam. Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran (gagasan-gagasan) dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubarinya diberi nama ‘Paduraksa’ yang artinya bertengkar didalam kalbu atau rasa.

Dari tempat itu mereka meneruskan perjalanannya ke selatan lagi dan sampailah mereka di hutan belukar dan untuk melepaskan lelahnya mereka singgah diatas tonggak randu yang tumbang dan tempat tersebut mereka beri nama ‘Randudongkal’. Dari tempat peristirahatannya itu, cahaya jelas masih kelihatan ada di timur laut, dan mereka meneruskan perjalanannya menuju arah cahaya tadi. Dan sebelum mereka hingga ketempat yang menjadi tujuannya mereka berhenti untuk beristirahat di bersahabat Sendang (kolam) untuk melaksanakan ibadah Sholat, dan sesudahnya tempat tersebut diberi nama ‘Belik’. Setelah melaksanakan Sholat, maka perjalanan diteruskan kearah timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan dan di tempat tersebut mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena cahaya jelas tersebut terlihat ada dipuncak Gunung. Tempat dimana mereka beristirahat dan terdapat banyak batu-batuan itu diberi nama ‘Watu Kumpul’.

Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga jadinya sampailah mereka di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa. Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawabnya oleh si petapa meskipun berulangkali diucapkan. Setelah ternyata salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata pada Syekh Maulana Maghribi : ‘Kiranya pertapa itu yakni seorang Budha’. Mendengar perkataan tersebut, si petapa itu lalu menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini yakni orang Budha yang Sakti’. Mendengar kata-kata sakti maka Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pemeluk agama Budha tadi, bahwa ia ingin melihat atau menyaksikan kesaktiannya,maka diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa. Syekh Maulana Maghribi tergolong orang yang mempunyai kesaktian dan didorong oleh rasa ingin mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menunjukan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu,tetapi ia belum mau mengalah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit. Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa biar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah hingga selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.

Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air hingga menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan daari si pertapa, maka ia sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.

Akhirnya si pertapa yang mengaku berjulukan ‘Jambu Karang’ (nama tersebut berasal dari pohon sandarannya, yaitu sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) mengalah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selnjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa mengalah kalah). Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung). Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yng tidak mengenal kering dimusim kemarau.

Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. KemudianSyekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), ia menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’. Sesaat setelah Syekh Jambu Karang mendapatkan wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin kencang yang menimbulkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya menyerupai sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang menunjukkan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim. Menurut hikayatnya, Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri berjulukan ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :

1. Makdum Kusen (Makam di Rajawana)
2. Makdum Medem (Makam di Cirebon)
3. Makdum Umar (Makam diKarimun Jawa)
4. Makdum (yang menghilang atau murca)
5. Makdum Sekar (Makam di Gunung Jembangan)

Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).
Syekh Maulana Maghribi yang terkenal dengan ‘Mbah Atas Angin’ selama empat puluh lima tahun bermukim disuatu tempat atau pedukuhan yang berjulukan ‘Banjar Cahayana’ (mungkin tempat tersebut didiami setelah menemukan cahayanya). Di tempat tersebut Mbah Atas Angin menderita penyakit gatal-gatal yang susah disembuhkan. Hal ini menimbulkan keprihatinan disertai dengan permohonan kepada Allah Yang Maha Esa supaya diberi rahmat serta berkah terhindar dari penyakitnya itu.

Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung ‘Gora’ dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pagi-pagi waktu Shubuh Mbah Atas Angin bersama Haji Datuk pergi kearah barat dan pada siang hari sampailah mereka dilereng Gunung Gora. Sesudah hingga di lereng Gunung Gora ia meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan beristirahat sambil menunggu di tempat yang datar, alasannya Mbah Atas Angin akan meneruskan perjalanannya kearah suatu tempat yang mengepulkan asap. Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya ‘Pancuran Pitu’ yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Sesudahnya ia memanjatkan do’a syukur kehadirat Illahi serta mengucap syukur bekerjsama ia telah dikaruniai sembuh dari sakitnya yang telah sangat lama dideritanya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk menunggu, ia berkata : Saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan.

Selanjutnya Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi ‘Gunung Slamet’. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Selama Syekh Maulana Maghribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan ‘Haji Datuk Rusuladi’. Rusuladi artinya ‘Batur Yang Baik’ (Adi). Dan konon kabarnya tempat tersebut oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut dengan ‘BATURRADEN’.

Referensi:

Sejarah Cerita Asal Usul Adanya Pulau Nusa Kambangan

Juni 14, 2017 2 Comments
Indonesia. Pulau ini masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Cilacap dan tercatat dalam daftar pulau terluar Indonesia. Untuk mencapai pulau ini orang harus menyeberang dengan kapal feri dari pelabuhan khusus yang di kelola oleh Departemen Kehakiman R.I. yaitu dari Pelabuhan Sodong menyebrang ke Cilacap.

Sejarah Cerita Asal Usul Adanya Pulau Nusa Kambangan
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang raja yang besar kepala dan sombong, Prabu Aji Pramosa yaitu seorang raja yang sangat berkuasa di daerahnya alasannya yaitu kesaktian yang dimilikinya. Dia mencari dan terus menambah kesaktiannya di aneka macam pelosok kawasan di Nusantara. Dia juga mencari orang- orang sakti untuk dikalahkannya. Dia tidak ingin ada satu orangpun yang mampu menandingi kesaktiannya. Para prajuritnya pun diutus untuk mencari orang- orang sakti ke seluruh pelosok negeri. Prajurit- prajuritnya pun alhasil menemukan seorang Resi yang konon memiliki kesaktian yang luar biasa. Resi itu berjulukan Resi Karno atau Kyai Jamur.

Segera setelah itu, sang Prabu pun mendatangi kediaman Kyai Jamur. Namun sebelumnya, Kyai Jamur telah diberi tahu oleh abdinya bahwa Prabu Aji Pramosa akan mendatanginya dan mengajaknya bertanding. Kyai Jamur lebih memilih untuk menghindari kedatangan sang Prabu dengan melaksanakan perjalanannya ke arah barat. Prabu Aji Pramosa pun sangat murka. Dia dan prajuritnya memutuskan untuk mengejar Kyai Jamur hingga ketemu dan berniat akan membunuhnya sebagai jawaban alasannya yaitu Kyai Jamur dianggap telah menentang titah paduka.

Kyai Jamur melaksanakan perjalanan kea rah barat, menelusuri hutan- hutan dan sungai- sungai hingga ke kawasan pesisir selatan pulau Jawa, singgahlah Kyai Jamur di suatu kawasan yang kini berjulukan Cilacap. Kyai Jamur menemukan sebuah gua di tepi laut. Di gua itu sang Resi pun bertapa. Rombongan sang Prabu pun telah hingga di kawasan itu. Rombongan itu pun menemukan sebuah gua dan mereka memutuskan untuk bertapa. Di dalam gua itu mereka menemukan sang resi sedang bertapa. Tanpa pikir panjang rombongan sang Prabu menghampiri sang resi dan pribadi membunuhnya. Sang Prabu dikejutkan alasannya yaitu jasad sang resi menghilang tanpa bekas.

Tiba- tiba …………..

Prabu Aji Pramosa dan rombongan dikejutkan oleh bunyi gemuruh ombak dan tornado pasir disertai angin yang dahsyat. Gemuruh ombak dan angin itu disertai dengan munculnya seekor naga yang sangat besar. Naga itu hendak memakan rombongan sang Prabu. Kian lama ombak itu kian membesar dan banyak penyu- penyu menepi ke teluk. Hingga alhasil teluk itu diberi nama Teluk Penyu yang menjadi obyek wisata utama kota cilacap.

Tidak hanya hingga disitu, naga itu kian mendekat kea rah sang prabu. Dengan tergesa- gesa sang prabu melepaskan anak panahnya ke arah naga. Anak panah melesat sempurna di ulu hati naga. Naga itu pun menghilang dan ombak serta gemuruh angin berhenti seketika. Tak lama kemudian muncullah seorang wanita yang sangat elok rupawan. Wanita berjulukan Dewi Wasowati. Wanita itu mendekati sang prabu guna berterima kasih kepada sang prabu dikarenakan telah memanahnya. Itu artinya sang prabu telah membantunya untuk mampu kembali ke wujud aslinya yaitu dari seekor naga yang angker menjadi insan seutuhnya. Sebagai ucapan terima kasih, wanita itu memperlihatkan setangkai kembang Wijaya Kusuma. Konon, siapa saja yang dapat memiliki bunga gaib ini, maka ia akan menurunkan raja- raja besar di Tanah Jawa. Maka, kawasan itu dinamakan Nusakembangan atau biasa disebut Nusakambangan yang artinya Pulau yang banyak ditumbuhi bunga.

Setelah mendapatkan bunga itu, sang prabu pulang dengan menaiki perahu. Namun sang prabu merasa sangat kecewa alasannya yaitu bunga itu jatuh di laut. Setelah hingga di kerajaan, sang prabu mendapat gosip bahwa di pulau karang erat Nusakambangan tumbuh bunga yang aneh dan ajaib. Ternyata bunga Wijaya Kusuma yang ia jatuhkan terdampar dan tumbuh di atas pulau karang itu. Sampai ketika ini eksistensi bunga Wijaya Kusuma masih dilestarikan di pulau Nusakambangan. Di pulau Nusakambangan juga ditumbuhi banyak bunga- bunga liar yang tidak kalah indah denga bunga Wijaya Kusuma.

Referensi:

Sejarah Bercerita Mengenai Seluk Beluk Kerajaan Siak, Riau

Mei 23, 2017 Add Comment
Istana Kerajaan Siak yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889 dengan nama ASSIRAYATUL HASYIMIAH lengkap dengan peralatan kerajaan. Sekarang Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura dijadikan tempat penyimpanan benda-benda koleksi kerajaan.

Diantara koleksi benda antik Istana Siak adalah: Keramik dari Cina, Eropa, Kursi-kursi kristal dibuat tahun 1896, Patung perunggu Ratu Wihemina merupakan hadiah Kerajaan Belanda, patung pualam Sultan Syarim Hasim I bermata berlian dibuat pada tahun 1889, perkakas menyerupai sendok, piring, gelas-cangkir berlambangkan Kerajaan Siak masih terdapat dalam Istana, komet , kapal kato (kapal raja siak).


Sebelum berdirinya Kerajaan Siak II pada tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rachmad Syah yang di Pertuan Raja Kecil yang sentra pemerintahannya di Kota Buantan, tempat Siak hingga batas Minangkabau dan pantai Timur Pulau Sumatera dibawah kekuasaan Kerajaan Johor sebagai penerus imperium Melaka. Kerajaan Gasib merupakan Kerajaan Siak I yang berkedudukan di Sungai Gasib di Hulu Sungai Siak. Kerajaan ini yakni kepingan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Muara Takus. Raja yang terakhir dari Kerajaan Gasib ini yang telah beragama islam yakni Sultan Hasan yang ditabalkan menjadi Raja oleh Sultan Johor. Kerajaan Siak I berakhir kekuasaannya pada tahun 1622 M.

Selama 100 tahun negeri ini tidak mempunyai raja, untuk mengawasi negeri ini ditunjuk seorang Syahbandar yang berkedudukan di Sabak Auh dikuala sungai siak dengan peran memungut cukai hasil hutan, timah dan hasil laut di tempat Kerajaan Johor.

Pada permulaan tahun 1622 Sultan Mahmud Syah , Sultan Johor Ayahanda Raja Kecil dibunuh oleh Megat Sri Rama sewaktu pulang dari Sholat Jum’at. Kerajaan Johor diambil alih oleh Datuk Bendahara Tun Hebab dan mengangkat dirinya sebagai raja Johor memakai gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah (1699-1719). Keluarga Sultan Mahmud Syah II dikejar dan dibunuh, termasuk orang-orang besar Kerajaan, dayang-dayang serta pengikut setia, maksudnya untuk menghilangkan keturunan Sultan Mahmud Syah II.

Tindakan ini bukanlah menambah kewibawaan dan kekuasaan tetapi sebaliknya timbul kebencian serta kekacauan dimana-mana di Negeri Johor dan daerah taklukannya. Beberapa daerah taklukannya melepaskan diri menyerupai : Indragiri, Kampar, Kedah, Kelantan, Trenggano dan Petani. Orang Minangkabau, Bugis, yang hidup sebagai pengembara memusuhi Sultan termasuk orang-orang Melayu di Petani.

Encik Pung, Ibunda Raja Kecil dapat diselamatkan oleh Ayahandanya Datuk Laksemana Johor, maka Encik Pung melahirkan putra lelaki berjulukan Raja Kecil yang dipanggil Tuan Bujang dan dapat disembunyikan hingga Raja Kecil berumur 7 tahun. Karena pengejaran terus dilaksanakan oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah terhadap Raja Kecil sebagai pewaris Kesultanan Johor, maka neneknya Datuk Laksemana Johor kemudian dibantu oleh Raja Negara di Singapura dan Datuk Temenggung Muar, maka Raja Kecil bersama ibunya Encik Pung dititipkan kepada saudagar orang Minangkabau yang bergelar Nakhoda Malim untuk dibawa ke Jambi dan kemudian terus ke Pagaruyung dan diserahkan kepada Raja Pagaruyung Yang Tuan Sakti untuk menerima perlindungan.

Di Pagaruyung Raja Kecil dididik dan dibesarkan sebagai anak Raja sehingga mendapat pengetahuan menangani pemerintahan, agama, sopan santun istiadat, kemiliteran dan bela diri.  Setelah itu maka Raja Kecil tiada berhenti daripada menuntut ilmu dunia akhirat, tiada meninggalkan sembahyang dan terdekat dengan guru agama dan guru-guru dunia dan bercampur dengan orang besar yang bijaksana. Raja Kecil menuntut bela atas ajal ayahandanya, merebut kembali tahta Kerajaan Johor. Raja Kecil mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Johor dengan mendapat pemberian orang Batu Bara yang berasal dari Minang kabau, Orang-orang Melayu Pesisir di Tanah Putih dan Kubu. DiBengkalis Raja Kecil mengatur kekuatan dan mendapat pemberian dari orang-orang Minang kabau yang ada disana serta orang Melayu yang setia dengan Sultan Mahmud Syah II.

Pada tanggal 21 Maret 1717, Tahta Kerajaan Johor jatuh ketangan Raja Kecil. Sultan Abdul Jalil Riayat Syah turun tahta yang telah memerintah di Kerajaan Johor pada tahun 1699-1717.  Pemerintahan Raja Kecil tidak bertahan lama di Kerajaan Johor, alasannya yakni Daeng Parani sangat marah dan dendam serta ditambah pula hasutan Tengku Tengan yang semula bakal menjadi isteri Raja Kecil sebagai permaisuri Kerajaan Johor gagal, alasannya yakni Raja Kecil sangat senang dengan adiknya yaitu Tengku Kamariyah. Akhirnya Tengku Kamariyah menjadi permaisuri Kerajaan Johor isteri Raja Kecil. Daeng Parani, Tengku Sulaiman dan Tengku Tengah bersepakat untuk merebut kembali kekuasaan Raja Kecil di Johor. Terjadilah perang saudara anatar Raja Kecil sepihak dengan Tengku Sulaiman, sedangkan Tengku Tengah dan Daeng Parani dengan pengikutnya orang-orang Bugis membantu Sultan Sulaiman.

Serangan ke Bintan untuk membalas dendam dilanjutkan pada tahun 1723, Raja Kecil berhasil mengambil isteri Tengku Kamariyah beserta pembesar Kerajaan yang ditawan. Raja Kecil kembali ke Bengkalis dan mencari daerah yang aman dari serangan orang luar dan mendirikan Kerajaan gres yang terletak di Sungai Siak yaitu di Kota Buantan. Kerajaan ini diberi nama Kerajaan Siak. Raja Kecil dengan Kerajaan Siak ini menyusun kekuatan untuk menyerang Bintan. Serangan ini terus menerus dilaksanakan hingga tahun 1737.

Raja Kecil kembali ke Siak mendirikan sentra Kerajaan dan membangun negeri Buantan yang terletak dipinggir Sungai Siak yang dikenal dengan nama Sungai Jantan. Dipusat Kerajaan Sultan Abdul Jalil Rachmat Syah melaksanakan konsolidasi dalam bidang bidang pemerintahan, militer dan perbaikan perekonomian negerinya.  Setelah wafatnya Tengku Kamariyah, isteri Raja Kecil yang tercinta yang sangat setia kepada suaminya di Kota Buantan, Raja Kecil sering sakit dan menerima tekanan batin. Pada tahun 1746 Raja Kecil dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rachmat Syah mangkat, ia disemayamkan di Kota Buantan dan digelar MARHUM BUANTAN.

Pada penghujung tahun 1724 Raja Kecil memilih sebuah tempat untuk menjadi sentra kerajaan. Tempat itu diberi nama “ Kota Buantan “, disinilah Kerajaan Siak berpusat.Kerajaan Siak diwariskan kepada anak cucunya dengan garis keturunan berdasarkan Syariat Islam (keturunan ayah) sebagai berikut :
1. Raja Kecik
Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (1723-1746 M) dengan ibukota Kerajaan di Buantan mangkat di Buantan yang disebut rakyat almarhum Buantan

2. Tengku Buang Asmara
Memerintah antara tahun 1746-1765 M yang merupakan Putra Bungsu Raja Kecik dengan ibukota Kerajaan di Sungai Mempura yang disebut rakyat almarhum Mempura.
3. Tengku Ismail
Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah (1765-1766 M). Putra Tengku Buang Asmara dengan Ibukota Kerajaan di Sungai Mempura Besar, disebut rakyat almarhum mangkat di Balai atau terkenal juga Sultan Kudung alasannya yakni tangan almarhum sebelahnya Kudung, dalam perlawanannya menentang Belanda tahun 1766 M.
4. Tengku Alam
Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1766-1780 M). Putra sulung Raja Kecik dengan Ibukota Kerajaan di Senapelan (Pekanbaru), mangkat di Senapelan (dekat mesjid Raya Pekanbaru) disebut rakyat almarhum Bukit.

5. Tengku Muhammad Ali Panglima Besar
Sultan Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1780-1782 M). Putra Tengku Alam dengan Ibukota Kerajaan di Senapelan, mangkat di Senapelan dan disebut rakyat almarhum Pekan (yang menghubungkan Kota Pekanbaru, Minangkabau dan Indragiri).

6. Tengku Yahya
Sultan Yahya Abdul Jalil Muzzaffar Syah (1782-1784 M). Putra dari Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah, dengan Ibukota Kerajaan di Sungai Mempura, mangkat di Dungun (Malaka) disebut rakyat almarhum Dungun.

7. Tengku Sayed Ali
Sultan Assyaidis Sarif Ali Abdul Jalil Syarifuddin (1784-1810 M). Putra Tengku Embung Badariah (Putri Tengku Alam) yang kawin dengan Sayed Syarief Usman Syahbuddin (Arab). Ibukota Kerajaan di Kota Tinggi (Siak Sri Indrapura), mangkat di Kota Tinggi disebut rakyat almarhum Kota Tinggi.

8. Tengku Sayed Ibrahim
Sultan Assyaidis Syarief Ibrahim Abdul Jalil Khaliluddin (1810-1815 M) alasannya yakni kesehatan Sultan terganggu, maka Pemerintahan dijalankan oleh wali Sultan.
Pada tahun 1813, Sultan Ibrahim mangkat dan dimakamkan di Kota Tinggi yang disebut rakyat almarhum Pura Kecil.

9. Tengku Sayed Ismail
Sultan Assyaidis Syarief Ismail Abdul Jalil Syarifuddin (1815-1864 M). Pada masa pemerintahan beliaulah adanya Tractat Siak-Belanda dimana Belanda mengakui Siak. Dimakamkan di Kota Tinggi yang disebut almarhum Indrapura.

10. Tengku Panglima Besar Sayed Kasyim I
Tengku Panglima Besar Sayed Kasyim I, Sultan Assyaidis Syarief Kasim I Abdul Jalil Syarifuddin (1864-1889 M) putra dari Sultan Ismail. Dimakamkan di Kota Tinggi dan disebut almarhum Mahkota.

11. Tengku Ngah Sayed Hasyim
Sultan Assyaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syarifuddin (1889-1908), putra dari Sultan Kasyim I. Sultan Syarif Hasyim mendirikan Istana yang diberi nama Istana Asserayah Hasyimiah. Mangkat di Singapura dan dimakamkan di Kota Tinggi. Disebut rakyat almarhum Baginda.

12. Tengku Putra Sayed Kasyim
Sultan Assyaidis Syarief Kasyim Sani (II) Abdul Jalil Syarifuddin (3 Maret 1915-1946). Sultan Syarif Kasyim memiliki 2 orang permaisuri, yaitu :
- Permaisuri I
Tengku Bin Syarifah Latifah digelar Tengku Agung, mangkat tahun 1927 di Siak Sri Indrapura. Dimakamkan di samping Mesjid Syahbuddin Siak Sri Indrapura.
- Permaisuri I
Syarifah Fadlun dengan gelar Tengku Maharatu, bercerai hidup tahun 1950 di Jakarta, mangkat di Jakarta tahun 1980 dimakamkan di Jakarta.
Beliau merupakan Sultan yang terakhir dari Kerajaan Siak. Beliau mangkat di Rumah Sakit Caltex Rumbai dan dimakamkan disamping Mesjid Syahbuddin Siak Sri Indrapura pada tanggal 24 April 1968.

Referensi:
http://m.riaupos.co/34083-berita-kapal-raja-siak-tempo-dulu-masih-terpajang-di-istana-siak.html#.Ulvl8FAyZtY

Sejarah di bangunnya Taj Mahal

April 10, 2017 Add Comment
Sejarah di bangunnya Taj Mahal - Taj Mahal, mungkin kau pasti sudah tahu apa itu. Bangunan yang berbentuk mesjid memiliki kubah megah setinggi 200 kaki dan dibuat oleh hasil karya dari arsitektur muslim asal India. Dulu bangunan ini didirikan atas kemauan Kaisar Mughal Shah Jahan anak Jahangir untuk istri asal Persianya, Arjumand Banu Begum, yang dikenal sebagai Mumtaz-ul-Zamani atau Mumtaz Mahal.
Sejarah di bangunnya Taj Mahal
Taj Mahal-Lambang Cinta

Monumen ini, terletak di kota Agra, India. Waktu pekerjaan monumen ini menghabiskan 23 tahun (1630-1653) lamanya dengan membutuhkan 20.000 orang diantaranya tukang batu, emas, dan pengukir terkenal dari seluruh dunia dan 1.000 ekor gajah.  Taj Mahal masuk kedalam 7 keajaiban di dunia. Juga diketahui sebagai lambang cintanya Kaisar Mughal terhadap istrinya.





Sejarah Mula Candi Sukuh Karanganyar

April 09, 2017 Add Comment
Sejarah Mula Candi SUkuh Karanganyar - Mungkin masyarakat Indonesia maupun turis luar negeri hanya mengenal Candi Borobudur ataupun Candi Prambanan yang sudah dijadikan sebagai objek wisata. Tapi, ada beberapa Candi yang terdapat di Indonesia yang memang belum di kenal oleh masyarakat indonesia maupun turis, salah satunya Candi Sukuh Karanganyar yang terletak di Kab.Karanganyar, Desa Sukuh tepatnya di Dukuh Berjo.

candi ini terdapat dalam tiga teras. Teras pertama terdapat gapura utama dengan ornamen sebuah candrasangkala yang berbunyi gapura buto abara wong, arti dari kalimat tersebut “Raksasa memburu manusia”. Kata yang terdapat di relief ini memiliki arti 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik menjadi tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Pada bagiann lantai dasar terdapat relief yang menggambarkan lingga-yoni dalam agama Hindu yang melambangkan Dewa Syiwa dengan istrinya (Parwati).

Sejarah Mula Candi SUkuh Karanganyar
Candi Sukuh
Pada teras kedua akan dijumpai gapura yang kondisinya tidak lagi beraturan. Pada bab kanan dan kiri terdapat patung penjaga pintu (dwarapala). Pada bab ini terdapat sebuah candrasangkala yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Arti dari kalimat tersebut “Gajah pendeta gigit ekor”. Kata yang terdapat di relief ini mempunyai arti 8, 7, 3, dan 1, kalau dibalik menjadi tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Pada teras ketiga Candi Sukuh terdapat pelataran besar dengan sebuah candi induk dan beberapa patung di sebelah kanan serta beberapa relief di sebelah kirinya. Bila menaiki anak tangga pada lorong gapura, akan terlihat relief yang sangat wow terpahat di lantai yang menggambarkan phallus berhadapan dengan alat wanita. dulu, pria yang ingin menguji apakah kekasihnya perawan atau tidak, mampu dapat datang ke daerah ini, dengan cara meminta si wanita untuk melompati relief tersebut. 

Dulu, Candi Sukuh dibangun pada tahun 1437 Masehi. Menurut beberapa Ahli Penelitian, candi sukuh merupakan bangunan yang paling terakhir dibuat. Awal ditemukannya sekitar tahun 1815 pada waktu bangsa Inggris menjajah. Yang pada ketika itu dipimpin oleh Sir Thomas Stanford Raffles yang ingin menulis ihwal sejarah Jawa. Lalu menyuruh pejabat residen Surakarta berjulukan Johnson untuk mengumpulkan data-data sebagai materi untuk penulisannya. 

Penelitian selanjutnya dilakukan tahun 1842 oleh orang Belanda Bernama Van De Vlis. Lalu, dilanjutkan lagi oleh Hoepermans pada tahun 1864-1867. lanjutkan dengan inventarisasi seorang Belanda berjulukan Knebel. lalu, diakhiri dengan pemugaran terhadap Candi Sukuh tahun 1928.

Bagi Kamu yang ingin mengunjungi Candi SUkuh Karang Anyar mampu melalui rute kota Surakarta lebih kurang 36KM, atau kau mampu juga dari kota Karang Anyar ke candi lebih kurang 20KM.

Sejarah Di Bangunnya Gedung Lawang Sewu

April 07, 2017 Add Comment
Masyarakat Indonesia khususnya di kota Semarang pasti tidak mungkin tidak ada yang tahu dengan daerah wisata Gedung Lawang Sewu. bangunan ini merupakan peninggalan pada masa jaman belanda . Lawang semu ini terletak di bundara  Tugu Muda, yaitu terletak di sudut jalan Pandanaran dan jalan Pemuda yang pada masa penjajahan Belanda daerah itu dinamakan Wilhelminaplein.  

Kenapa di sebut Gedung Lawang Sewu? Karena bangunan itu memiliki sekitar 600an daun pintu, oleh alasannya itu disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu). Bangunan Lawang sewu didirikan pada tahun 1904 dan diselesaikan tahun 1907. Lawang Sewu sebelum dijadikan kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia (KAI) yakni sebuah perusahaan digunakan untuk Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, kereta api swasta pada jaman Belanda sebagai kantor administrasi. Juga, pernah digunakan sebagai kantor Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Kementrian Perhubungan Jawa Tengah.
Gedung Lawang Sewu
Bagian Depan Gedung Lawang Sewu


Gedung Lawang Sewu
Gedung Lawang Sewu dari Lantai 2


Gedung Lawang Sewu
Miniatur Gedung Lawang Sewu

Gedung Lawang Sewu
Peta Gedung Lawang Sewu

Apalagi Pihak pemerintah kota Semarang telah menetapkan bahwa Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan sejarah yang dilindungi. Lawang Sewu juga digunakan daerah diselenggarakannya event-event acara komersil ibarat musik, festival dll.

Pada waktu peperangan, gedung ini menjadi saksi bisu perjaka Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang yang berlangsung (14 Oktober–19 Oktober 1945) lima hari di kota Semarang. alasannya gedung ini menjadi daerah pembantaian dan penyiksaan perjaka Angkatan Muda Kereta Api oleh Jepang di dalam gedung yang korbannya konon mencapai ribuan. Bagian lantai bawah tanah bangunan terdapat penjara jongkok sebagai daerah memenjarakan perjaka Angkatan Muda Kereta Api sebelum mereka dibunuh. Setelah dibunuh maat mereka di buang ke sungai kecil yang ada disamping bangunan. Sebelum dijadikan daerah pembantaian oleh Jepang penjara jongkok itu digunakan Belanda sebagai daerah untuk pengaturan air supaya tidak banjir.
Referensi:

Menguak Sejarah Masa Di Bangunnya Benteng Fort De Kock (Bukittinggi)

April 06, 2017 Add Comment
Masyarakat Indonesia yang mengerti akan sejarah indonesia, pasti akan tahu wacana peninggalan sejarah masa lalu salah satunya Benteng Fort De Kock yang berada di kota Bukittinggi merupakan peninggalan dari negara Belanda pada ketika itu. Benteng tersebut dibangun oleh Kapten  Johan Heinrich Conrad Bouer tahun 1825 berada diatas Bukit Jirek yang dulu digunakan tentara Belanda sebagai tempat pertahanan terhadap serangan dari masyarakat Minangkabau, pada waktu terjadinya perang Paderi tahun 1821-1837.

Benteng Fort De Kock terdapat meriam kecil di 4 sudutnya. Diberi nama dengan Fort De Kock alasannya tempat didirikannya benteng tersebut yaitu Bukit Jirek. Juga sebagai dedikasi  Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang sekaligus Komandan Militer (commandant der troepen) pada ketika itu, Hendrik Merkus Baron de Kock.
belanda sejarah


Adanya Benteng tersebut tidak mampu dipisahkan dari sejarah terjadinya perang Paderi tahun 1821-1837 yang berujung masuknya tentara Hindia-Belanda ke dalam konflik. Yang pada ketika itu tentara Hindia-Belanda di mintai derma dari Kaum Adat yang ternyata dengan sesuka hati membangun benteng di  daerah dataran tinggi (darek) Minangkabau untuk mengalahkan Kaum Paderi. Diantara Benteng yang dibangun ialah Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batusangkar. Akibatnya perjanjian yang diadakan oleh Kaum Adat dengan tentara Hindia-Belanda membuat mereka dirugikan dan runtuhnya kerajaan Pagaruyung.
peninggalan sejarah

Pada tahun 2002 lalu pemerintah derah setempat merenovasi daerah daerah Benteng Fort De Kock yang sekarang menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park). Hingga ketika sekarang Benteng tersebut masih ada sebagai bangunan bercat putih-hijau setinggi 20 m. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.
Menguak Sejarah Masa Di Bangunnya Benteng Fort De Kock (Bukittinggi) 

Sejarah Di Bangunnya Menara Kembar Petronas di Malaysia

Maret 16, 2017 2 Comments
Menara kembar Petronas ialah dua buah Gedung pencakar langit kembar di Kuala Lumpur, Malaysia yang sempat menjadi gedung tertinggi di dunia dilihat dari tinggi pintu masuk utama ke bab struktur paling tinggi.

Menara tersebut dirancang dan dibangun oleh perusahaan abnormal yaitu Adamson Associates Architects, dari Kanada bersama dengan Cesar Pelli dari Cesar Pelli of Cesar Pelli & Associates Architects Amerika Serikat dengan desain Interior yang merefleksikan budaya Islam yang mengakar di Malaysia.
Sejarah Di Bangunnya Menara Kembar Petronas di Malaysia

Pembangunan menara ini dimulai pada tahun 1992 dan akibat pada tahun 1998 dengan ketinggian menara 451,9 meter (1483 kaki) sudah termasuk antena menara dan total lantai dari Twin Towers ini ialah 88 lantai. Antara Tower I dan Tower II, yang lebih dahulu akibat pembangunannya ialah Tower II yang dikerjakan oleh perusahaan Korea, satu bulan lebih awal akibat dibangun dari pada Tower I.

Namun sayang pada tanggal 17 Oktober 2003, rekor Petronas Twin Towers sebagai gedung tertinggi di dunia semenjak tahun 1998 dikalahkan oleh gedung Taipei 101. Tetapi menara Kembar Petronas tetap memegang gelar sebagai menara kembar tertinggi di dunia.